Judul di atas diambil dari sebuah artikel karya Hamid Basyaib, dengan quote kepala:
Secara primordial, agama bagi tiap-tiap individu adalah (bersifat) prasmanan. Bahkan, setelah menu baku diracik para koki agama, unsur-unsur prasmanan itu mustahil hilang. Sejak beberapa tahun terakhir, orang-orang mulai makin terbuka menyatakan keprasmanan itu bagi diri dan kelompoknya.
Ia mencatat tentang pergeseran dari pola kepenganutan agama sebagai menu lengkap yang utuh menjadi à la carte atau prasmanan. Di situ, setiap orang berhak memilih Tuhan atau sekte keagamaan yang paling mereka minati. Gejala ini marak di Barat dan Timur dengan kecepatan beragam. Di Amerika Serikat bisa dikatakan setiap hari muncul satu agama baru dengan pengikut orang per orang. Di India terdapat ribuan agama yang merupakan pembelahan generik dari Hinduisme.
Rumusnya jelas. Perangkat yang diperlukan antara lain kitab suci (bisa racikan dari semua kitab suci yang sudah ada plus sejumlah filosofi dan kreativitas pribadi; lalu diedit yang bagus). Perlu juga rumah ibadah dengan arsitektur yang khas. Pakaian resmi para petinggi, penetapan hari besar, pola ritual yang sederhana, penetapan sejumlah gelar (bagi ketua, wakilnya, para “capo”, dan umat biasa). Jadilah itu agama baru.
Basyaib juga mencatat fenomena dengar arah sebaliknya; yaitu gejala pemurnian agama. Yang dimaksud di sini tentunya kembali ke pakem asal beragama. Kembali kepada kitab suci dan ortodoksi ajaran agama formal. Tetapi seperti biasanya, Basyaib menimpali gejala ini dengan keraguan: tentu dengan asumsi bahwa yang murni itu ada dan pemurnian adalah mungkin
Tanpa harus menyatakan setuju atau tidak terhadap Basyaib, fakta yang ia beber seputar perkembangan agama-agama di Barat (dan India) sulit dibantah. Bagaimana dengan Islam? Basyaib tentu akan ngotot bahwa gejala ini terjadi pada setiap agama (termasuk Islam). Kita tinggalkan dulu Basyaib dengan semua kengototannya dan mari selidik dari cara kita sendiri.
Kita lihat saja fenomena mutakhir Al-Qiyadah Al-Islamiyyah (jangan-jangan ini plesetan dari Al-Qaidah, hehehe) dengan rasul Ahmad Moshaddeq, atau komunitas Eden yang punya malaikat jibril bernama Lia, Al-Qur’an Suci, Ahmadiyah dll… Kalau mau, daftar ini masih bisa diperpanjang dengan LDII, Syi’ah, Al-Jama’ah Al-islamiyyah, dst..dst.
Dengan arogan, MUI, NU, dan Muhammadiyah (diikuti lasykar FPI dan berbagai jenis kelompok galak) akan menyebut aliran-aliran di atas sebagai sesat—dan menyesatkan, menodai agama dan wajib diberangus. Benarkah…? (tak perlu dijawab). Definisi lain yang lebih mendekati kenyataan sosiologis adalah istilah “kelompok sempalan”, biasanya lebih banyak diintrodusir kalangan intelek.
Kelompok sempalan adalah pembeda dari kelompok utama (mainstream) dengan letak perbedaan utama pada jumlah pengikutnya. Jika sebuah kelompok memiliki jumlah pendukung sangat besar, jadilah kelompok itu mainstream. Kalau hanya diikuti sejumlah orang maka disebut kelompok sempalan. Sederhana sekali kannn…
Semakin banyak kelompok sempalan, semakin banyak pula order fatwa di pundak MUI. Jika MUI sudah memutuskan aliran itu sesat dan menyesatkan maka gempuran pun dimulai (seringkali gempuran sudah dimulai sebelum MUI menetapkan fatwa). Siap-siap saja rumah peribadatan mereka dilempari batu hingga dibakar. Siap-siap saja mengungsi ke polsek terdekat. Dipenjara 2-5 tahun dengan tuduhan macam-macam. Setelah keluar dari bui kembalilah mereka membangun jamaah sempalan. Karena keyakinan tak pernah bisa dibui.
Ada yang bilang bahwa kemunculan aliran-aliran ini terkait dengan kegagalan dakwah kelompok mainstream. Dengan begitu, pembubaran dan tindakan anarkis terhadap mereka dapat menjadi kontra-produktif. Solusinya (kata mereka) adalah pembinaan ulang alias re-edukasi. Satu pertanyaan menggelitik adalah: Benarkah kemunculan aliran-aliran sempalan itu murni akibat kegagalan mereka menyerap ajaran formal? Menurut saya tidak selalu begitu.
Apakah juga dapat disebut fenomena ini berawal dari kebodohan (nalar) dari para pengikut, sehingga mereka nurut saja dibodohi oleh rasul dan malaikat jibril gadungan? Menurutku juga bukan. Lihat saja para pengikut Lia Eden yang sebagian besar berasal dari kalangan well-educated dan the have. Persoalan mereka sangat jauh dari urusan nalar, tetapi lebih pada ketenangan hati. Jalan yang mereka tempuh memang rada ekstrim, tetapi sebenarnya tidak jauh berbeda dengan anak-anak kampus yang tiba-tiba senang ke masjid, ikut kelompok NII, atau orang kaya yang ikut pelatihan ESQ. Sekali lagi ketenangan batin. Bisakah kyai dan dai dari aliran mainstream memenuhinya?
Kembali ke soal prasmanan agama. Mereka semua (mungkin juga termasuk kita) telah memilih menu agama dengan selera masing-masing. Ada yang doyan sup, ada yang benci daging, ada yang merasa wajib mengambil tempe 2 potong, ada yang hanya ingin minum jus. Jika diamati isi piringnya….ternyata tak ada yang sama….


